Property:Response text id

From BASAkalimantanWiki
Showing 20 pages using this property.
B
seorang boti lagi viral di media sosial, la menjabarkan buruknya seorang guru dengan memakai pakaian seragam. Dukungan terhadap konten seperti ini bisa mengurangi kualitas pendidikan, berkurangnya semangat kerja seorang guru dan menghambat masuknya ilmu. usaha untuk menghindari hal ini yaitu, jangan memberikan dukungan dalam bentuk likes, komentar, follow, dan share pada konten itu. Jika dia ada di lingkungan sekitar, cara untuk mengatasinya yaitu jangan memberikannya pujian. Pujian dapat memajukan mereka untuk terus melakukan tingkah tersebut demi mendapatkan perhatian, sehingga akhirnya menjadi suatu kebiasaan. Penting bagi semua orang untuk berpikir lebih dalam tentang menilai konten yang di lihat.  +
Konten Digital merusak otak atau kemajuan peradaban? menurut saya, Brain Rot disebabkan oleh hal diluar kendali pemerintah, tanggung jawab masing² diri, apalagi sekarang industri 4.0 transformasi informasi dari banyak aspek masuk ke otak manusia silih berganti, tapi Pemerintah juga tidak bagus kalau memblokir banyak akses sosial media karena banyak pemuda/pemudi influencer penyebar campaign positif di seluruh indonesia, contohnya saja pandawara pemburu sampah, tapi pada faktanya setelah sungai/pantai bersih rapi, kotor lagi gara - gara masyakaratnya sendiri saran saya untuk mengurangi Brain Rot walikota Banjarmasin bisa bekerja sama dengan Kominfo dan Pemuda Bakti Banua Hasnur Centre karena pemuda Banua, untuk membuat wadah komunitas pelatihan bakat agar hidup kami lebih banyak didunia nyata ,dibanding dunia maya, dan buatlah kompetisi dengan berbagai lini bakat tadi, karena saya sendiri percaya diri tidak terkena dampak Brain Rot karena setiap hari nya fokus akan hal produktif dengan kompetisi/latihan rutin atas bakat yang saya miliki.  +
Kita dapat mengurangi dampak negatif media digital pada generasi muda dengan mengatur waktu penggunaan, memilih konten yang lebih positif, dan meningkatkan kesadaran akan bahayanya. Selain itu, berkumpul dan bercerita dengan teman-teman bisa menjadi cara efektif agar tidak terlalu terpaku pada dunia digital. Dengan lebih banyak interaksi langsung, melakukan kegiatan bersama, dan menikmati kehidupan nyata, generasi muda bisa mengembangkan hubungan sosial yang lebih sehat. Orang tua juga harus berperan dalam mengawasi anak-anak mereka, serta sekolah dapat memasukkan edukasi digital agar generasi muda tidak mudah terpengaruh oleh hal-hal negatif  +
Dalam foto ini, terlihat tumpukan sampah plastik yang ada di lingkungan sekitar. Plastik, yang merupakan salah satu jenis limbah paling umum, seringkali berakhir di tempat-tempat yang tidak seharusnya, seperti pantai, sungai, dan hutan. Keberadaan sampah plastik tidak hanya merusak pemandangan, tetapi juga mengancam ekosistem dan kesehatan makhluk hidup. Untuk mengurangi masalah ini, penting bagi kita untuk menerapkan langkah-langkah sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu cara efektif untuk mengurangi sampah plastik adalah dengan mengadopsi gaya hidup yang lebih ramah lingkungan. Misalnya, kita bisa membawa tas belanja kain saat berbelanja, mengganti botol plastik dengan botol reusable, dan memilih produk dengan kemasan minimal. Selain itu, penting untuk mendukung inisiatif daur ulang dan memperhatikan pengelolaan sampah di lingkungan sekitar. Dengan bersama-sama melakukan perubahan kecil ini, kita dapat mengurangi dampak plastik terhadap lingkungan  +
Cara menanggulangi sampah plastik adalah dengan cara memakai plastik bekas yang sudah pernah di pakai, dan membawa makanan minuman sendiri agar tidak menambah sampah plastik lagi. Mendaur ulang sampah plastik agar plastik yang tidak bisa di gunakan lagi agar bisa di dair ulang menjadi barang yang baru dan bisa di gunakan , mengurangi membeli makanan dan minuman yang memakai plastik.  +
Mengingatkan orang disekitar kita untuk membuang sampah pada tempatnya,tapi apabila kita melihat orang yg membuang sampah sembarangan kita harus menegurnya. Memilah sampah sesuai dengan jenisnya,yaitu sampah organik,anorganik dan B3  +
Sebagai pelajar, kita harus bijak dalam mengonsumsi konten digital agar tidak mengalami *brain rot*. Caranya adalah dengan membatasi waktu penggunaan media sosial, memilih konten yang edukatif, serta aktif membaca buku dan berdiskusi. Selain itu, penting untuk melatih berpikir kritis agar tidak mudah terpengaruh oleh informasi dangkal. Dengan begitu, otak tetap sehat dan berkembang.  +
Bijak dalam Memilih Konten Digital Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Sebagai pelajar, kita harus bijak dalam memilih konten digital supaya tidak terkena brain rot akibat terlalu banyak mengonsumsi konten receh. Batasi waktu layar, pilih tontonan yang bermanfaat, dan perbanyak membaca agar otak tetap tajam. Ketahuilah bahwa terlalu banyak menonton konten receh dapat merusak pola pikir dan membuat kita malas berpikir kritis. Jadi, mari gunakan media sosial dengan bijak agar masa depan kita lebih cerah. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.  +
Sebagai pelajar, kita perlu cerdas dalam menggunakan konten digital agar terhindar dari brain rot. Salah satu caranya adalah dengan mengatur waktu bermain media sosial, memilih tontonan yang mendidik, serta sering membaca buku dan berdiskusi. Selain itu, melatih kemampuan berpikir kritis juga penting agar tidak gampang terpengaruh oleh informasi yang kurang bermutu. Dengan begitu, otak kita tetap aktif dan berkembang dengan baik.  +
Seperti yang sudah kita ketahui, di dunia yang maju ini. Media digital telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita sehari hari, Dari komunikasi hingga hiburan, hampir semua aspek kehidupan kita dipengaruhi oleh teknologi digital. Tetapi, dibalik kemudahan dan hiburan media yang kita pakai, media digital pasti membawa dampak negatif, terutama pada kesehatan otak. Penggunaan yang berlebihan dapat menyebabkan gangguan fokus, masalah kesehatan mental, dan penurunan kualitas hidup. Menurut pendapat saya pengaruh media digital terhadap otak sangat besar. Karena Otak manusia memiliki plastisitas, artinya dapat berubah dan beradaptasi sesuai dengan pengalaman. Penggunaan media digital yang intens dapat mengubah struktur dan fungsi otak, terutama pada area yang bertanggung jawab atas perhatian, memori, dan pengambilan keputusan. Salah satu dampak utama nya adalah gangguan perhatian. Paparan informasi yang cepat di media digital dapat membuat otak kesulitan untuk fokus pada satu tugas. Hal ini dapat menyebabkan penurunan kemampuan konsentrasi dan peningkatan risiko gangguan perhatian (ADHD) pada individu. Selain itu, media digital juga dapat memengaruhi memori. Penggunaan internet untuk mencari informasi dapat membuat kita kurang mengandalkan memori/ingatan kita sendiri. Sehingga hal ini menyebabkan penurunan kemampuan mengingat informasi secara mandiri. Dan hal tersebut kemudian berdampak pada masalah kesehatan mental. Penggunaan media sosial yang berlebihan dapat memicu perasaan cemas, depresi, dan rendah diri. Paparan konten yang tidak realistis dan perbandingan sosial yang konstan dapat merusak citra diri dan kesejahteraan mental. Apalagi di era ini banyak sosial media yang rawan dengan postingan postingan orang lain yang beberapa kurang mendidik. Media digital telah merevolusi cara kita hidup, bekerja, dan berinteraksi. Namun, di balik kemudahan dan efisiensi yang ditawarkan, tersembunyi potensi dampak negatif yang signifikan terhadap kesehatan otak. Penggunaan media digital yang berlebihan telah dikaitkan dengan berbagai masalah, mulai dari gangguan kognitif hingga masalah kesehatan mental. Oleh karena itu, pemahaman mendalam tentang cara mengurangi dampak negatif ini menjadi sangat penting di era digital ini. Otak manusia memiliki kemampuan luar biasa untuk beradaptasi, yang dikenal sebagai neuroplastisitas. Namun, kemampuan ini juga membuat otak rentan terhadap perubahan yang disebabkan oleh paparan media digital yang intens. Untuk melindungi otak dari dampak negatif media digital, kita memerlukan suatu strategi agar kita dapat mengurangi dampak negatif pengaruh media digital saat ini, seperti: 1. Manajemen Waktu Layar. 2. Tetapkan batasan waktu harian dan mingguan untuk penggunaan media digital. 3. Gunakan aplikasi untuk membatasi waktu layar. 4. Latih diri untuk mengidentifikasi dan menghindari pemicu yang menyebabkan penggunaan media digital yang berlebihan. 5. Libatkan diri dalam aktivitas fisik, olahraga, dan hobi yang tidak melibatkan perangkat digital. 6. Luangkan waktu untuk interaksi sosial tatap muka dengan teman dan keluarga. 7. Jelajahi alam, membaca buku, atau melakukan aktivitas kreatif. 8. Edukasi diri tentang dampak media digital dan cara mengidentifikasi informasi yang salah atau menyesatkan. 9. Kembangkan kemampuan untuk membedakan antara fakta dan opini, serta untuk mengevaluasi sumber informasi. 10. Mengikuti kegiatan sosial untuk menambah relasi. Dengan mengadopsi strategi-strategi ini, kita dapat meminimalkan dampak negatif media digital dan menjaga kesehatan otak. Penting untuk diingat bahwa keseimbangan adalah kunci. Teknologi digital adalah alat yang kuat, dan kita memiliki tanggung jawab untuk menggunakannya secara bijak dan bertanggung jawab.  
Seperti yang sudah kita ketahui, di dunia yang maju ini. Media digital telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita sehari hari, Dari komunikasi hingga hiburan, hampir semua aspek kehidupan kita dipengaruhi oleh teknologi digital. Tetapi, dibalik kemudahan dan hiburan media yang kita pakai, media digital pasti membawa dampak negatif, terutama pada kesehatan otak. Penggunaan yang berlebihan dapat menyebabkan gangguan fokus, masalah kesehatan mental, dan penurunan kualitas hidup. Menurut pendapat saya pengaruh media digital terhadap otak sangat besar. Karena Otak manusia memiliki plastisitas, artinya dapat berubah dan beradaptasi sesuai dengan pengalaman. Penggunaan media digital yang intens dapat mengubah struktur dan fungsi otak, terutama pada area yang bertanggung jawab atas perhatian, memori, dan pengambilan keputusan. Salah satu dampak utama nya adalah gangguan perhatian. Paparan informasi yang cepat di media digital dapat membuat otak kesulitan untuk fokus pada satu tugas. Hal ini dapat menyebabkan penurunan kemampuan konsentrasi dan peningkatan risiko gangguan perhatian (ADHD) pada individu. Selain itu, media digital juga dapat memengaruhi memori. Penggunaan internet untuk mencari informasi dapat membuat kita kurang mengandalkan memori/ingatan kita sendiri. Sehingga hal ini menyebabkan penurunan kemampuan mengingat informasi secara mandiri. Dan hal tersebut kemudian berdampak pada masalah kesehatan mental. Penggunaan media sosial yang berlebihan dapat memicu perasaan cemas, depresi, dan rendah diri. Paparan konten yang tidak realistis dan perbandingan sosial yang konstan dapat merusak citra diri dan kesejahteraan mental. Apalagi di era ini banyak sosial media yang rawan dengan postingan postingan orang lain yang beberapa kurang mendidik. Media digital telah merevolusi cara kita hidup, bekerja, dan berinteraksi. Namun, di balik kemudahan dan efisiensi yang ditawarkan, tersembunyi potensi dampak negatif yang signifikan terhadap kesehatan otak. Penggunaan media digital yang berlebihan telah dikaitkan dengan berbagai masalah, mulai dari gangguan kognitif hingga masalah kesehatan mental. Oleh karena itu, pemahaman mendalam tentang cara mengurangi dampak negatif ini menjadi sangat penting di era digital ini. Otak manusia memiliki kemampuan luar biasa untuk beradaptasi, yang dikenal sebagai neuroplastisitas. Namun, kemampuan ini juga membuat otak rentan terhadap perubahan yang disebabkan oleh paparan media digital yang intens. Untuk melindungi otak dari dampak negatif media digital, kita memerlukan suatu strategi agar kita dapat mengurangi dampak negatif pengaruh media digital saat ini, seperti: 1. Manajemen Waktu Layar. 2. Tetapkan batasan waktu harian dan mingguan untuk penggunaan media digital. 3. Gunakan aplikasi untuk membatasi waktu layar. 4. Latih diri untuk mengidentifikasi dan menghindari pemicu yang menyebabkan penggunaan media digital yang berlebihan. 5. Libatkan diri dalam aktivitas fisik, olahraga, dan hobi yang tidak melibatkan perangkat digital. 6. Kembangkan kemampuan untuk membedakan antara fakta dan opini, serta untuk mengevaluasi sumber informasi. Dengan mengadopsi strategi-strategi ini, kita dapat meminimalkan dampak negatif media digital dan menjaga kesehatan otak. Penting untuk diingat bahwa keseimbangan adalah kunci. Teknologi digital adalah alat yang kuat, dan kita memiliki tanggung jawab untuk menggunakannya secara bijak dan bertanggung jawab.  
kebusukan otak adalah istilah populer yang menggambarkan kemunduran mental atau intelektual seseorang. Kondisi ini sering dikaitkan dengan konsumsi berlebihan konten yang dianggap dangkal, tidak menantang, atau tidak informatif, terutama yang ditemukan di media sosial dan platform digital lainnya.  +
Di era digital saat ini, kita dihadapkan pada berbagai jenis konten yang dapat diakses dengan mudah melalui internet. Namun, tidak semua konten tersebut memiliki nilai edukatif atau positif. Konten receh seperti video tiktok, reels, dan youtube short yang tidak memiliki nilai, dapat berdampak negatif pada otak kita. Konten receh dapat membuat kita kecanduan dan menghabiskan waktu berjam-jam untuk menonton atau membaca konten yang tidak berguna. Hal ini dapat menyebabkan kita kehilangan fokus dan konsentrasi, serta mengurangi kemampuan kita untuk berpikir kritis dan analitis. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memilih konten yang kita konsumsi dengan bijak. Kita harus memilih konten yang memiliki nilai edukatif, positif, dan dapat membantu kita untuk berkembang menjadi pribadi yang lebih baik.  +
Menurut saya, mengatasi pembusukan otak bisa dilakukan dengan membaca buku, mencari konten edukatif, membatasi konsumsi konten pendek, dan aktif dalam interaksi sosial. Membaca buku memperkaya wawasan dan memperluas pengetahuan, karena banyak ilmu yang bisa didapat dari sana. Membiasakan diri untuk membaca juga dapat membantu menjaga ketajaman otak. Selain itu, berinteraksi melalui diskusi atau kegiatan sosial juga bermanfaat untuk menjaga daya pikir tetap aktif. Kegiatan lainnya seperti menulis jurnal harian juga bisa menjadi cara efektif untuk melatih pola pikir. Menurut pribahasa Banjar “kada jadi baras jua” yang artinya orang Banjar tidak melakukan hal yang tidak bermanfaat agar tidak terjadi pembusukan otak.  +
Brain rot adalah penurunan fungsi kognitif akibat konsumsi konten digital berkualitas rendah. Hal ini dapat menyebabkan sulit berkonsentrasi, memahami informasi, berpikir kritis, serta meningkatkan stres dan ketergantungan teknologi. Untuk mencegahnya, pelajar bisa mengurangi scrolling media sosial yang tidak produktif, melatih otak dengan membaca atau bergabung dalam komunitas menulis, menerapkan digital detox, menjaga kesehatan mental dan fisik, serta memvariasikan metode belajar agar tetap efektif dan tidak mudah bosan.  +
Kalau kita ngomongin tentang brain rot sejujurnya akan menjadi permasalahan utama yang akan terus ada apalagi teknologi terus berkembang di setiap harinya. Sebagai orang yang sepertinya telah terkena Brain rot, sepertinya bisa di mulai sedikit demi sedikit mengubah media hiburannya. Untuk yang sudah sangat kecanduan media hiburan dengan durasi pendek bisa sedikit di ubah. Jika di awal nonton tiktok, reels atau mungkin Youtube Shorts, bisa di ubah dengan video yang lebih panjang seperti Youtube. Setelah lebih bisa megatur durasi hiburannya, bisa sedikit lebih sedikit di naikkan levelnya untuk membaca beberapa bacaan, ntah itu tetap di media sosial seperti di membaca postingan atau AU, dan di naikkan lagi dengan lebih sering membaca buku. Pengurangan penggunaan gawai secara tiba ada kecenderungan kembali kepada kebiasaan awalnya, sehingga bisa di lakukan secara perlahan tetapi pasti.  +
Fenomena Brain Rot terjadi akibat konsumsi berlebihan terhadap konten receh yang minim nilai edukatif. Konten semacam ini dapat menurunkan daya pikir kritis, mengurangi kemampuan fokus, dan mempercepat kecanduan digital. Algoritma media sosial memperparah kondisi ini dengan terus menyajikan konten serupa, menciptakan siklus konsumsi yang sulit dihentikan. Untuk mengatasinya, diperlukan kesadaran individu dalam memilih konten, serta regulasi lebih ketat terhadap algoritma platform digital agar lebih mendukung konten berkualitas.  +
Otak busuk itu kondisi di mana pikiran jadi lemot, susah mikir, gampang lupa, dan males bergerak. Biasanya, hal ini disebabkan oleh kebanyakan scroll media sosial, binge-watching, atau main game terus-menerus tanpa jeda. Selain itu, kurang gerak, begadang, jarang ngobrol langsung, dan multitasking berlebihan turut bikin otak cepat capek. Untuk mengatasi otak busuk, kurangi waktu main HP, baca buku atau nulis, dan lakukan olahraga ringan seperti jalan kaki atau stretching. Tidur cukup dan ngobrol langsung dengan orang juga penting. Pilih konten berkualitas agar otak tetap aktif dan tajam setiap hari. Jaga kesehatan pikiran dengan rutin istirahat dan manfaatkan waktu luang produktif.  +
Brain Rot merupakan salah satu fenomena yang marak terjadi di kalangan Gen Z dan juga pada gen Alpha. Bentuk video pendek dengan narasi yang bertujuan untuk menarik perhatian penonton. Biasanya bentuk video pendek ini merupakan hal yang khas pada suatu aplikasi, seperti Tiktok, Reels Instagram, Youtube Short, dan aplikasi lainnya. Bentuk video pendek dengan format yang "lucu" ini merupakan bentuk dopamine yang dinikmati dengan durasi pendek dimana tidak memerlukan upaya kognitif yang mendalam untuk memahami isi konten serta fokus yang berkepanjangan. konten-konten seperti ini sering kali dirancang untuk memicu respon yang instan seperti humor yang absurd, kejutan secara visual, ataupun jargon viral yang berulang, salah satunya adalah video "Adek, Papa dikejar telur, goreng, goreng, goreng", dimana konten ini tidak memberikan konteks yang jelas namun dibalut dengan humor yang tidak memerlukan pemikiran panjang. Bentuk konten seperti ini membuat otak menjadi terbiasa dalam menerima stimulasi yang cepat tanpa perlu mengolah informasi yang kompleks. Salah satu solusi yang bisa digunakan dalam menyelesaikan stimulasi instan ini adalah dengan dopamine detox, dimana dopamine detox merupakan bentuk strategi dalam mengurangi paparan terhadap stimulasi yang berlebihan dan memicu pelepasan dopamin, seperti bentuk notifikasi, perilaku scroll tanpa henti, atau konten humor singkat yang nyeleneh. Hal ini dapat dilakukan pada gawai itu sendiri, dengan menggunakan fitur seperti pembatasan waktu penggunaan sebuah aplikasi, misalnya pengguna hanya dapat menggunakan tiktok selama 1 jam saja dalam sehari, dan ketika batas tersebut tercapai, akses terhadap aplikasi tersebut akan terkunci otomatis. Mode fokus juga adalah salah satu fitur yang tersedia di gawai yang dapat menyembunyikan notifikasi yang tidak penting dan membatasi akses ke aplikasi-aplikasi tertentu selama periode yang sudah ditentukan. Alasan penulis membawa solusi tema yang minimalis agar dapat mengurangi visual yang berlebihan, dimana hal ini adalah salah satu penyebab munculnya rangsangan kepada pengguna untuk terus berinteraksi. Seperti menggunakan skema warna yang monokrom, dimana mode hitam putih ini bertujuan untuk menghilangkan daya tarik bagi pengguna dalam melihat aplikasi yang ada di gawai. Penggunaan aplikasi seperti "Zen Detox" adalah alat bantu dalam menyederhanakan tampilan dari menu di gawai, serta memprioritaskan aplikasi-aplikasi yang esensial atau penting seperti pesan, kalender, web browser, serta membuat aplikasi seperti sosial media menjadi kurang menarik ataupun memerlukan pengguna untuk menggunakan tenaga ekstra dalam mengakses aplikasi tersebut. Menghilangksn ikon aplikasi dan hanya menunjukkan nama dari aplikasi juga bertujuan untuk dapat mengurangi familiaritas dan potensi untuk membuka aplikasi sosial media tersebut. Meskipun solusi ini dapat dianggap kuat dalam mengatasi keinginan dopamin yang instan, tidak menutup kemungkinan bahwa terdapat tantangan juga. Seperti tidak terbiasanya otak yang secara tiba tiba dibatasi aksesnya terhadap konten-konten yang dinikmati, serta hak pengguna dalam "membatalkan" fitur-fitur yang sudah aktif sehingga perlunya bentuk komitmen pengguna dalam mengurangi perilakunya dalam menikmati konten-konten brain rot. Kombinasi detoksifikasi dopamin dan bentuk tema yang minimalis, tidak hanys mengurangi risiko dari brain rot, tetapi juga meningkatkan kemampuan yang membutuhkan fokus terhadap tugas-tugas yang kompleks. Mengembalikan kendali bagi pengguna terhadap konten apa saja yang bisa dicerna, serta mengurangi rasa cemas apabila tidak menikmati konten-konten yang memberikan stimulasi yang berlebihan. Solusi ini bukanlah sebagai penghapus dari kebutuhan terhadap teknologi, tetapi mengoptimalkan teknologi tersebut dalam membantu manusia. Peran pemerintah ataupun instansi terkait menurut Penulis, tidak perlu harus membuat regulasi yang bersifat "mengatur" perilaku masyarakatnya, tetapi dapat melakukan bentuk kampanye (seperti anti narkoba ataupun bahaya dari merokok), dimana hal ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran pada masyarakat tentang dampak negatif, dan menganjurkan tindakan detoksifikasi dopamin untuk mengurangi stimulasi yang berlebihan. Meningkatkan kesadaran masyarakat adalah hal yang sangat penting, agar tidak menganggap isu seperti brain rot sebagai masalah yang sepele tetapi juga memberi edukasi yang dapat membangun perilaku masyarakat yang produktif dan aktif. Peran pemerintah dapat menjadi fasilitator yang memastikan perkembangan teknologi dapat sejalan dengan perkembangan pada masyarakat. Selain meminimalisir dampak dari brain rot, pemerintah dan masyarakat juga berperan dalam membangun budaya digital yang lebih sadar dan bertanggung jawab dalam penggunaan teknologi.  
Menurut saya, anak-anak zaman sekarang yang terpengaruh oleh konten brain rot seharusnya menjadi PR bagi orang tua untuk mengawasi penggunaan hp dalam sehari-hari.  +